Jum’at, 1 April 2011
00.22 WIB
“Bir, buat apa lo mikirin nasib bangsa kalo lo ga mikirin diri lo sendiri ?”
“. . . . .”
Percakapan satu arah yang terngiang dikepalaku selama 29 jam terakhir, merubah suasana hati dan sedikit pencerahan ada disana. Tidak sedikit juga sebenarnya, kata-kata yang hanya keluar dari mulut seorang sahabat, dan tak kulihat kemunafikan dari kata-katanya. Seketika terlintas apa saja yang kuperbuat selama ini, dan terus berdengung di kepalaku, layaknya gong yang dipukul sebagai awal dimulainya sebuah pentas wayang kulit, adegan-adegan masa lalu itu menyeruak keluar dari jalinan saraf di otakku, seakan berteriak muak ingin ledakkan isi kepalaku. Adegan demi adegan hidupku menutupi inderaku, pecahkan konsentrasiku.
Teringat masa-masa indah rasa kemenanganku ketika di SD dulu, masuk SMP favorit, bahagiakan keluargakau, adegan ketika ku pegang dengan bangga sertifikat juara olimpiade ku ketika SMA dulu, refleksikan apa yang ku punya dan apa yang kubanggakan saat ini, hancur hatiku menyandingkan dua realitas berbeda di dalam hidupku.
Sudah dua bulan ini, dua bulan yang sia-sia, proposal penelitian yang saya targetkan selesai dua minggu lalu ternyata belum terealisasi hingga detik ini, detik-detik menjelang perlawananku terhadap kantuk yang sudah menjadi-jadi ini.
Sebenarnya bukan suatu alasan menyalahkan segalanya kepada sistem yang memang menurutku sangat mengikat, menjebak, dan menindas pola pikirku ini, tak perlu aku jelaskan sistem apa yang ku maksud, menjelaskannya akan membuatku kembali terjun ke jurang kekecewaan egois ku terhadap ketidakadilan di hidupku ini, pola pikir egois ini.
Bukan berarti aku tidak bersyukur akan apa yang telah terjadi di hidupku saat ini, toh banyak hal baik yang kurasakan mengendap di tiap mili ruang berpikirku hingga saat ini. Memang, apa yang kita raih merupakan refleksi apa yang kita perbuat sebelumnya, dan perlu kita pahami bahwa yang kita raih bukanlah sebuah keniscayaan untuk kita rubah. Selama aku masih bernafas, dadu masih bisa ku gulirkan, dengan optimis ataupun pesimis.
Hidup terkadang dapat dianalogikan sebuah perjudian, dadu kita lempar dan bergulir dengan liar. Namun, hidup tidak terletak pada liarnya dadu bergulir, melainkan apa yang kita pertaruhkan pada dadu yang kita gulirkan dengan pertimbangan baik-buruk, optimis-pesimistis, dan realitas yang mungkin terjadi. Sehingga bukanlah perkara sebuah kekecewaan apabila apa yang kita pertaruhkan tidak sesuai dengan realitas yang terjadi, karena sudah kita pertimbangkan baik buruknya melalui kadar pesimistis-optimistis yang kita punya pada dadu yang kita gulirkan.
Memang terkesan pembenaran seakan paham terhadap apa yang telah aku alami saat ini, namun itu alamiah menurutku, setidaknya yang aku rasakan memang begitu sepertinya. Konklusi yang aku pelajari dari percakapan satu arah dengan temanku itu sangatlah membantuku. Memang, aku kurang optimis dan menyalahkan kepada keadaan. Ketika diri ini lelah berlari, kenapa kau tidak memejamkan matamu seraya berlari ? memikirkan tujuan pelarianmu telah memporsir sisa tenagamu, istirahatkan pikiranmu, biarkan kakimu yang menjejak, walau perlahan dan tujuan tidak dipandangan, setidaknya kau pasti akan tiba di perhentianmu, setidaknya kau punya perhentianmu.
Kesemrawutan ini tidak sesulit apa yang kau lihat dan kau pikirkan untuk kau urai, kau hanya butuh untuk mencoba mengurainya dan kau akan tahu serumit apa sebenarnya.
Malam ini, semangat ini naik lagi, entah sampai kapan bertahan selepas ku istirahatkan pikiran dan jiwa ini untuk esok hari. Selamat hari jum’at bal . . .
bbbeeeeeeuuhhh
BalasHapus