Minggu, 27 Maret 2011

Sabtu yang Melelahkan


26 Maret 2011
Pukul 08.55 WIB
Harusnya pagi ini aku berangkat ke kampus hari ini, ada seminar tentang technopreneurship yang mungkin akan kubutuhkan. Aku tidak bernafsu pergi kesana, rumah kosong, pagi jam 6 pagi aku terbangun, sholat subuh kemudian tidur lagi. Kuterbangun pukul 07.30 dengan banyak pertimbangan untuk tidak mengikuti seminar tersebut dan lebih memilih menghabiskan waktu di rumah.
Jam 8 pagi tadi ayahku pulang dari tempat kerjanya, membawa dua bungkus gado-gado padang untuk diriku dan dirinya. Kami makan bersama sembari berbincang mengenai kakekku, yang dulu katanya seorang direktur PT Pelni. Sangat bertolak belakang dengan kehidupan kami sekarang mengingat ayahku adalah anak lelaki pertama dari kakekku.
Kuminta 4 batang rokok ayahku dan segera melangkah ke kamarku, bingung apa yang ingin ku lakukan  untuk menghabiskan hari sabtu ini. Ku menerawang ke semua sudut kamarku, penerawanganku berhenti pada sebuah buku, buku yang bercerita tentang perjuangan seorang manusia untuk keluar dari belenggu kemiskinannya dan berakhir menjadi seorang sukses yang berhasil di negeri orang, intinya kurang lebih seperti itu. Tanteku yang membelikanku buku itu, mengingat ternyata manusia itu adalah salah satu lulusan universitas tempat aku menuntut ilmu, mungkin dia merefleksikan isi buku itu terhadap kehidupan keluargaku yang serba pas-pasan  walaupun tidak dapat diidentikkan dengan kisah si manusia dalam buku tersebut. Ku baca buku tersebut, dan berhenti pada halaman ke 3, karena bosan.
Bukan berarti aku mengkerdilkan usaha manusia tersebut untuk keluar dari belenggu kemiskinan, namun sudah terlalu banyak kisah tersebut aku ketahui dan pahami, bahkan saksi hidupnya pun teman aku, seorang anak penyadap karet dari Jambi yang telah menjambangi negeri orang karena buah pemikirannya yang baik. Terlalu banyak kisah seperti itu terjadi, bahkan menjadi klise dimataku, dan menurutku bukan aku saja yang berpikir demikian, dan menjadi berbahaya menurutku apabila kisah seperti itu menjadi sebuah kisah yang klise, karena nilai perjuangan mereka akan luntur akibat kebosanan  orang lain seperti yang aku alami, di negeri para bajingan ini.
Jadi teringan sewaktu aku menonton sebuah acara debat di televisi mengenai plesiran anggota DPR ke luar negeri.
“ Seorang anak petani aja rela menjual sawahnya untuk menyekolahkan anaknya”, sebuah perumpamaan yang bengis menurutku, seorang anggota DPR bisa-bisanya berkata demikian di depan jutaan rakyat yang dia wakili seenggaknya menurutku sendiri. Betapa bengisnya anggota DPR membiarkan seorang anak petani menjual sawahnya untuk menyekolahkan anaknya, betapa biadabnya mereka membiarkan hal itu terjadi, menunjukkan bahwa ternyata para pejabat pemerintahan di negara kita tidak memiliki logika yang baik dalam menyelesaikan permasalahan negeri ini, pantas saja lingkaran setan kebiadaban orang-orang berduit dan para pejabat makin menjadi-jadi.
Menurutku ternyata memang sudah klise kisah seperti itu, bahkan untuk para pejabat negeri ini yang notabene-nya menjabat untuk mewakili bangsa ini untuk diarahkan menjadi bangsa yang lebih sejahtera dan bermartabat.
Pada akhirnya kurencanakan hari ini untuk tidur-tiduran saja dirumah, mengumpulkan semangat buat kuliah minggu depan, seraya menunggu hari minggu, hari dimana temanku akan menikah besok, kami sekelas akan datang ke acara nikahannya, selamat buat Irma, semoga bahagia dengan hidup barumu.

Sabtu, 26 Maret 2011

Sendal Jepit yang Hilang di Masjid di Negeri yang Berketuhanan yang Maha Esa


Seketika saya menyadari suatu hal yang mungkin tidak begitu penting namun menurut saya menjadi penting bila dihadapkan pada pondasi berpikir kita. Pondasi berpikir yang kuat dan tanpa tedeng aling yang dihadapkan pada realita imut yang menjadi lucu apabila saya renungkan berkali – kali. Satu hal yang pasti, hal ini cuma pepesan kosong namun sedikit layak untuk diangkat. Lantas apa hubungannya antara sandal jepit yang hilang di masjid di negeri yang berketuhanan yang maha esa dengan pendahuluan saya ini ?

Sendal jepit yang hilang dimasjid mungkin menjadi hal biasa dan kadang menjadi hal lumrah malah menjadi bahan lelucon. Sendal jepit yang hilang di masjid menjadi suatu fenomena tersendiri dari cara otak kita bekerja dan motorik kita bertindak. Ingat masjid ingat Tuhan, mau ingat Tuhan ya salah satu caranya pergi ke masjid, dimana masjid menjadi tempat yang suci lagi mensucikan. Namun kok bisa bisanya sandal jepit hilang di masjid ?

Tuhan melalui firmannya yang diturunkan kepada para utusannya selalu mengingatkan kita untuk menjauhi tindakan keji dan munkar, tindakan dzolim dan haram, sekecil apapun, pada saat bagaimanapun, itu pondasi berpikir dasar setiap agama ajarkan pada umatnya di muka bumi ini. Namun realitanya lain apabila kita melihat fenomena sandal jepit yang hilang dimasjid.

Lantas, apakah sebab yang menyebabkan bisa bisanya sandal jepit hilang di masjid ? Apakah masjid sebagai media yang kita yakini tempat paling dekat dengan Tuhan hanya sebatas wacana dalam otak kita masing-masing saja ? ataukah masjid sudah hilang kesuciannya ? hmmm… Jika sedikit kita berpikir nakal, apakah Tuhan sedang tidak ada di masjid atau mungkin Tuhan itu benar-benar tidak ada malah ?? tentu bukan itu jawabannya saya rasa, namun saya yakin sekali Tuhan memang tidak ada di masjid.

Bila kita berpikir secara rasional dengan akal sehat, masjid hanyalah dan semata-mata tidak lebih media yang Tuhan anggap tepat sebagai tempat kita mengingat diri-Nya, sehingga para nabi dan rasul tentu saja menetapkan masjid sebagai tempat yang suci. Namun tidaklah masjid itu menjadi tempat yang suci melainkan kita yang mensucikannya, dengan tidak mengotorinya secara fisik atau dengan tindakan yang tentu saja tidak suci. Sehingga, tidaklah suatu perkara besar sandal jepit itu hilang di masjid, melainkan manusia yang ternyata sedang bingung apakah fenomena menghilangkan sandal jepit milik orang lain adalah perbuatan suci atau tidak. Nah lho ??

Itulah sekilas fenomena bangsa kita yang berketuhanan yang maha esa ini, di negeri yang kita anggap suci dan nenek moyang kita telah curahkan tetes darah campur keringat untuknya, dan bangsa kita meyakini Tuhan itu ada dan Maha Esa, tetapi kita ternyata sudah mengkhianati kepercayaan itu, kita tetap dzolim kepada sesama dan mengkhianati apa yang diperintahkannya, tidak hanya di mesjid, dikantor, dirumah, disekolah, dikampus, di gedung DPR, di gedung MPR, dll. Sehingga masuk akal lah bahwa negara ini sedang kotor, sedang dijauhi Tuhannya, dan Tuhan terus mengingatkan kita bahwa kita telah mengotori negeri ini dengan fenomena sandal jepit hilang di masjid yang kita lakukan. Bukanlah suatu hal yang aneh apabila negeri ini di hujani bencana yang bertubi-tubi layaknya hujan di bulan agustus.

Mungkin sudah saatnya negeri ini kembali kita sucikan sebelum Tuhan yang mensucikannya, mungking sudah saatnya kita mengembalikan sandal yang kita ambil dari pemiliknya seraya meminta maaf, mungkin sudah saatnya kita mencegah terjadinya kehilangan sandal-sendal yang lain.