Kamis, 21 Juli 2011

Dialektika Sepi di Malam Hari


Dialektika Sepi di Malam Hari
Kamis, 21 Juli 2011
11.13 PM
Malam ini,
Asap rokok ini gantikan celoteh sepanjang hari

Malam ini,
Konsep arti sepi datang lagi

Berbicara aku dengan ruhku,
Kenapa sepi datang menggigit lagi,
Aku bosan dengan sepi ini,
Jangkrik berderik ejek aku malam ini,

Tapi apalah arti rewel hati ini,
Toh besok dia datang lagi,
Gigit lagi,
Jangkrik malam ejek lagi.

Jumat, 01 April 2011

Balada Supir Angkot

Saya Udin si supir angkot, nama lengkap saya Udin. Layaknya kebanyakan teman saya yang bernama Udin, saya seorang supir angkot, namun bukan berarti semua orang bernama Udin adalah seorang supir angkot. Saya ingin bercerita kepada kamu tentang saya, tentang kegundahan hati seorang supir angkot, yang duduk 15 jam sehari dalam angkot dikurangi duduk di warkop atau main gapleh sampai pagi, bukan berarti semua supir angkot bernama Udin duduk 15 jam sehari juga.

Dulu, sewaktu kecil, saya punya cita-cita menjadi seorang dokter, namun Ibu bilang buat apa saya jadi dokter, Amin si anak komplek jual mobilnya buat masuk Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Depok. Pikir ulang saya, kembali saya ke Ibu, bilang saya mau jadi tentara. Ibu bilang jangan jadi tentara, badan kurus kerempeng kurang gizi mau jadi tentara. Saya pikir ulang mau jadi polisi, Ibu bilang jangan jadi polisi, saudaraku tidak ada yang kenal polisi, dibaca mereka pun bakalan tidak formulirku. Aku mau belajar Ibu !!, aku mau pintar !! Pintar tidak bikin perutku kenyang !!! pasti itu kata Ibu.

Akhirnya, saya menjadi supir angkot, setelah bang Udin versi lain tapi dari profesi yang sama ajarkan aku bawa mobil. Awalnya cita-cita menyerempet jadi supir ambulan pun tak apa lah ! tak jauh juga jadi dokter, jadi supir jenazah pun akan kulakoni !!!Lha, SIM A saja saya ga punya, gimana mau ngelamar, sayang duit buat SIM, pakai jalur normal ? hingga aku punya cucu ga akan tembus, mau nembak ? mending buat beli rokok sama makan 10 hari !!

Akhirnya, sekitar 6 tahun dan 3 bulan serta 12 hari yang lalu saya telah ditahbiskan menjadi seorang supir angkot hingga saat yang tidak ditentukan.

Andai kalian tahu, sulit rasanya menjadi supir angkot,ngetem nunggu penumpang adalah hal paling berat yang harus kami lakukan, tiap pagi hingga sore jadi bulan-bulanan klakson kendaraan bermotor, mulai dari roda dua hingga roda enam, mulai dari anak SD hingga tua renta, dari tukang becak hingga pejabat di atas sana. Sumpah serapah pun tak luput buat panas telinga kami, layaknya kami manusia paling hina dan sebodoh-bodohnya keturunan Adam adalah kami. Apa boleh buat, kalau ga ngetem, kapan aku makan ?

Ya ! saya si supir angkot yang keahliannya hanya menyetir, bikin polusi baik dari knalpot mobil dan rokokku ini, bikin macet jalan, bikin habis kesabaran penumpang, dan saya punya keahlian khusus membuat jengkel pengendara lain. Apa bole buat ? demi kejar setoran yang sisanya buat makan.

Melalui tulisan sumbang ini saya sampaikan permintaan maaf saya kepada para siswa, mahasiswa, pekerja, dan para penumpang yang “terpaksa” setia dengan armada angkot. Kami sadar betul terkadang menjadi penyebab utama keterlambatan kalian ke tempat kerja, sekolah, kampus, dan apapun tujuan kalian. Saya sadar betul lho atas perbuatan saya tersebut, tapi apa boleh buat, selain buat kejar setoran yang sisanya buat makan.

Kepada para pejabat Negara yang terhormat, dengan khidmat dan tanpa khianat kami pun minta maaf, telah membuat kalian menjadi objek empuk para kritikus, lawan politik, dan masyarakat karena sudah menjadi masalah selama kalian jadi menjabat, walau kami tak mampu kalian babat karena rezeki kami pun kalian embat !!! bayar trayek masuknya dompet pejabat, tak bisa dipungkiri jalanan makin hari makin padat ! TOBAAT !!

Tapi tak bisa kami pungkiri, apalah kami tanpa kalian, kami ga bisa makan tanpa kalian, bagaimana bisa kami merasakan rokok yang jadi satu-satunya kemewahan yang dapat kami beli dan kami biasa hisap diselang waktu ngetem kami, menjadi senjata terampuh kami melupakan kesulitan hidup untuk sementara, memperpendek umur kami, semoga kami tidak mati durjana. Kami sadar dan kami rela kok jadi objek sumpah serapah, caci maki, dan personifikasi penghuni kebun binatang. Ya mau bagaimana lagi, demi ngejar setoran yang sisanya buat makan dan membantu negara menafkahi para polisi dan petugas DLLAJ kita seenggaknya, walau ga kesampean jadi polisi !

nb: penulis bukanlah seorang supir angkot, penulis hanya berakting menjadi supir angkot ketika menulis tulisan ini.

Hidup di Tangan Dadu


Jum’at, 1 April 2011
00.22 WIB


“Bir, buat apa lo mikirin nasib bangsa kalo lo ga mikirin diri lo sendiri ?”
“. . . . .”

Percakapan satu arah yang terngiang dikepalaku selama 29 jam terakhir, merubah suasana hati dan sedikit pencerahan ada disana. Tidak sedikit juga sebenarnya, kata-kata yang hanya keluar dari mulut seorang sahabat, dan tak kulihat kemunafikan dari kata-katanya. Seketika terlintas apa saja yang kuperbuat selama ini, dan terus berdengung di kepalaku, layaknya gong yang dipukul sebagai awal dimulainya sebuah pentas wayang kulit, adegan-adegan masa lalu itu menyeruak keluar dari jalinan saraf di otakku, seakan berteriak muak ingin ledakkan isi kepalaku. Adegan demi adegan hidupku menutupi inderaku, pecahkan konsentrasiku.

Teringat masa-masa indah rasa kemenanganku ketika di SD dulu, masuk SMP favorit, bahagiakan keluargakau, adegan ketika ku pegang dengan bangga sertifikat juara olimpiade ku ketika SMA dulu, refleksikan apa yang ku punya dan apa yang kubanggakan saat ini, hancur hatiku menyandingkan dua realitas berbeda di dalam hidupku.

Sudah dua bulan ini, dua bulan yang sia-sia, proposal penelitian yang saya targetkan selesai dua minggu lalu ternyata belum terealisasi hingga detik ini, detik-detik menjelang perlawananku terhadap kantuk yang sudah menjadi-jadi ini.

Sebenarnya bukan suatu alasan menyalahkan segalanya kepada sistem yang memang menurutku sangat mengikat, menjebak, dan menindas pola pikirku ini, tak perlu aku jelaskan sistem apa yang ku maksud, menjelaskannya akan membuatku kembali terjun ke jurang kekecewaan egois ku terhadap ketidakadilan di hidupku ini, pola pikir egois ini.

Bukan berarti aku tidak bersyukur akan apa yang telah terjadi di hidupku saat ini,  toh banyak hal baik yang kurasakan mengendap di tiap mili ruang berpikirku hingga saat ini. Memang, apa yang kita raih merupakan refleksi apa yang kita perbuat sebelumnya, dan perlu kita pahami bahwa yang kita raih bukanlah sebuah keniscayaan untuk kita rubah. Selama aku masih bernafas, dadu masih bisa ku gulirkan, dengan optimis ataupun pesimis.

Hidup terkadang dapat dianalogikan sebuah perjudian, dadu kita lempar dan bergulir dengan liar. Namun, hidup tidak terletak pada liarnya dadu bergulir, melainkan apa yang kita pertaruhkan pada dadu yang kita gulirkan dengan pertimbangan baik-buruk, optimis-pesimistis, dan realitas yang mungkin terjadi. Sehingga bukanlah perkara sebuah kekecewaan apabila apa yang kita pertaruhkan tidak sesuai dengan realitas yang terjadi, karena sudah kita pertimbangkan baik buruknya melalui kadar pesimistis-optimistis yang kita punya pada dadu yang kita gulirkan.

Memang terkesan pembenaran seakan paham terhadap apa yang telah aku alami saat ini, namun itu alamiah menurutku, setidaknya yang aku rasakan memang begitu sepertinya.  Konklusi yang aku pelajari dari percakapan satu arah dengan temanku itu sangatlah membantuku. Memang, aku kurang optimis dan menyalahkan kepada keadaan. Ketika diri ini lelah berlari, kenapa kau tidak memejamkan matamu seraya berlari ? memikirkan tujuan pelarianmu telah memporsir sisa tenagamu, istirahatkan pikiranmu, biarkan kakimu yang menjejak, walau perlahan dan tujuan tidak dipandangan, setidaknya kau pasti akan tiba di perhentianmu, setidaknya kau punya perhentianmu.

Kesemrawutan ini tidak sesulit apa yang kau lihat dan kau pikirkan untuk kau urai, kau hanya butuh untuk mencoba mengurainya dan kau akan tahu serumit apa sebenarnya.

Malam ini, semangat ini naik lagi, entah sampai kapan bertahan selepas ku istirahatkan pikiran dan jiwa ini untuk esok hari. Selamat hari jum’at  bal . . .

Minggu, 27 Maret 2011

Sabtu yang Melelahkan


26 Maret 2011
Pukul 08.55 WIB
Harusnya pagi ini aku berangkat ke kampus hari ini, ada seminar tentang technopreneurship yang mungkin akan kubutuhkan. Aku tidak bernafsu pergi kesana, rumah kosong, pagi jam 6 pagi aku terbangun, sholat subuh kemudian tidur lagi. Kuterbangun pukul 07.30 dengan banyak pertimbangan untuk tidak mengikuti seminar tersebut dan lebih memilih menghabiskan waktu di rumah.
Jam 8 pagi tadi ayahku pulang dari tempat kerjanya, membawa dua bungkus gado-gado padang untuk diriku dan dirinya. Kami makan bersama sembari berbincang mengenai kakekku, yang dulu katanya seorang direktur PT Pelni. Sangat bertolak belakang dengan kehidupan kami sekarang mengingat ayahku adalah anak lelaki pertama dari kakekku.
Kuminta 4 batang rokok ayahku dan segera melangkah ke kamarku, bingung apa yang ingin ku lakukan  untuk menghabiskan hari sabtu ini. Ku menerawang ke semua sudut kamarku, penerawanganku berhenti pada sebuah buku, buku yang bercerita tentang perjuangan seorang manusia untuk keluar dari belenggu kemiskinannya dan berakhir menjadi seorang sukses yang berhasil di negeri orang, intinya kurang lebih seperti itu. Tanteku yang membelikanku buku itu, mengingat ternyata manusia itu adalah salah satu lulusan universitas tempat aku menuntut ilmu, mungkin dia merefleksikan isi buku itu terhadap kehidupan keluargaku yang serba pas-pasan  walaupun tidak dapat diidentikkan dengan kisah si manusia dalam buku tersebut. Ku baca buku tersebut, dan berhenti pada halaman ke 3, karena bosan.
Bukan berarti aku mengkerdilkan usaha manusia tersebut untuk keluar dari belenggu kemiskinan, namun sudah terlalu banyak kisah tersebut aku ketahui dan pahami, bahkan saksi hidupnya pun teman aku, seorang anak penyadap karet dari Jambi yang telah menjambangi negeri orang karena buah pemikirannya yang baik. Terlalu banyak kisah seperti itu terjadi, bahkan menjadi klise dimataku, dan menurutku bukan aku saja yang berpikir demikian, dan menjadi berbahaya menurutku apabila kisah seperti itu menjadi sebuah kisah yang klise, karena nilai perjuangan mereka akan luntur akibat kebosanan  orang lain seperti yang aku alami, di negeri para bajingan ini.
Jadi teringan sewaktu aku menonton sebuah acara debat di televisi mengenai plesiran anggota DPR ke luar negeri.
“ Seorang anak petani aja rela menjual sawahnya untuk menyekolahkan anaknya”, sebuah perumpamaan yang bengis menurutku, seorang anggota DPR bisa-bisanya berkata demikian di depan jutaan rakyat yang dia wakili seenggaknya menurutku sendiri. Betapa bengisnya anggota DPR membiarkan seorang anak petani menjual sawahnya untuk menyekolahkan anaknya, betapa biadabnya mereka membiarkan hal itu terjadi, menunjukkan bahwa ternyata para pejabat pemerintahan di negara kita tidak memiliki logika yang baik dalam menyelesaikan permasalahan negeri ini, pantas saja lingkaran setan kebiadaban orang-orang berduit dan para pejabat makin menjadi-jadi.
Menurutku ternyata memang sudah klise kisah seperti itu, bahkan untuk para pejabat negeri ini yang notabene-nya menjabat untuk mewakili bangsa ini untuk diarahkan menjadi bangsa yang lebih sejahtera dan bermartabat.
Pada akhirnya kurencanakan hari ini untuk tidur-tiduran saja dirumah, mengumpulkan semangat buat kuliah minggu depan, seraya menunggu hari minggu, hari dimana temanku akan menikah besok, kami sekelas akan datang ke acara nikahannya, selamat buat Irma, semoga bahagia dengan hidup barumu.

Sabtu, 26 Maret 2011

Sendal Jepit yang Hilang di Masjid di Negeri yang Berketuhanan yang Maha Esa


Seketika saya menyadari suatu hal yang mungkin tidak begitu penting namun menurut saya menjadi penting bila dihadapkan pada pondasi berpikir kita. Pondasi berpikir yang kuat dan tanpa tedeng aling yang dihadapkan pada realita imut yang menjadi lucu apabila saya renungkan berkali – kali. Satu hal yang pasti, hal ini cuma pepesan kosong namun sedikit layak untuk diangkat. Lantas apa hubungannya antara sandal jepit yang hilang di masjid di negeri yang berketuhanan yang maha esa dengan pendahuluan saya ini ?

Sendal jepit yang hilang dimasjid mungkin menjadi hal biasa dan kadang menjadi hal lumrah malah menjadi bahan lelucon. Sendal jepit yang hilang di masjid menjadi suatu fenomena tersendiri dari cara otak kita bekerja dan motorik kita bertindak. Ingat masjid ingat Tuhan, mau ingat Tuhan ya salah satu caranya pergi ke masjid, dimana masjid menjadi tempat yang suci lagi mensucikan. Namun kok bisa bisanya sandal jepit hilang di masjid ?

Tuhan melalui firmannya yang diturunkan kepada para utusannya selalu mengingatkan kita untuk menjauhi tindakan keji dan munkar, tindakan dzolim dan haram, sekecil apapun, pada saat bagaimanapun, itu pondasi berpikir dasar setiap agama ajarkan pada umatnya di muka bumi ini. Namun realitanya lain apabila kita melihat fenomena sandal jepit yang hilang dimasjid.

Lantas, apakah sebab yang menyebabkan bisa bisanya sandal jepit hilang di masjid ? Apakah masjid sebagai media yang kita yakini tempat paling dekat dengan Tuhan hanya sebatas wacana dalam otak kita masing-masing saja ? ataukah masjid sudah hilang kesuciannya ? hmmm… Jika sedikit kita berpikir nakal, apakah Tuhan sedang tidak ada di masjid atau mungkin Tuhan itu benar-benar tidak ada malah ?? tentu bukan itu jawabannya saya rasa, namun saya yakin sekali Tuhan memang tidak ada di masjid.

Bila kita berpikir secara rasional dengan akal sehat, masjid hanyalah dan semata-mata tidak lebih media yang Tuhan anggap tepat sebagai tempat kita mengingat diri-Nya, sehingga para nabi dan rasul tentu saja menetapkan masjid sebagai tempat yang suci. Namun tidaklah masjid itu menjadi tempat yang suci melainkan kita yang mensucikannya, dengan tidak mengotorinya secara fisik atau dengan tindakan yang tentu saja tidak suci. Sehingga, tidaklah suatu perkara besar sandal jepit itu hilang di masjid, melainkan manusia yang ternyata sedang bingung apakah fenomena menghilangkan sandal jepit milik orang lain adalah perbuatan suci atau tidak. Nah lho ??

Itulah sekilas fenomena bangsa kita yang berketuhanan yang maha esa ini, di negeri yang kita anggap suci dan nenek moyang kita telah curahkan tetes darah campur keringat untuknya, dan bangsa kita meyakini Tuhan itu ada dan Maha Esa, tetapi kita ternyata sudah mengkhianati kepercayaan itu, kita tetap dzolim kepada sesama dan mengkhianati apa yang diperintahkannya, tidak hanya di mesjid, dikantor, dirumah, disekolah, dikampus, di gedung DPR, di gedung MPR, dll. Sehingga masuk akal lah bahwa negara ini sedang kotor, sedang dijauhi Tuhannya, dan Tuhan terus mengingatkan kita bahwa kita telah mengotori negeri ini dengan fenomena sandal jepit hilang di masjid yang kita lakukan. Bukanlah suatu hal yang aneh apabila negeri ini di hujani bencana yang bertubi-tubi layaknya hujan di bulan agustus.

Mungkin sudah saatnya negeri ini kembali kita sucikan sebelum Tuhan yang mensucikannya, mungking sudah saatnya kita mengembalikan sandal yang kita ambil dari pemiliknya seraya meminta maaf, mungkin sudah saatnya kita mencegah terjadinya kehilangan sandal-sendal yang lain.